Thursday, 09 Sep 2010

SEARCH

NEWS & ARTICLE

Press Release

Revolusi Biru Dongkrak Produksi Perikanan

MENTERI Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad menggagas, gerakan revolusi biru sebagai strategi meningkatkan produksi perikanan, pendapatan nelayan, dan pembudidayaan ikan. "Revolusi biru untuk mencapai Visi 2015

Indonesia sebagai negara penghasil produk kelautan dan perikanan terbesar di dunia," kata Fadel Muhammad di Jakarta, Rabu (17/2), saat memberikan pembekalan kepada peserta rapat kerja nasional Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Fadel mengatakan, revolusi biru merupakan revolusi cara berpikir {mindset) melalui suatu perubahan orientasi dalam melihat, menyikapi peluang ekonomis awalnya pendekatan darat menjadi pendekatan kelautan.

Inti revolusi biru terletak pada perubahan cara berpikir, terutama mengubah Indonesia dari negara kontinental (daratan) menjadi negeri bahari (kelautan). Strategi besar ini,
ujar dia, mencakup empat hal, memperkuat kelembagaan dan sumber daya manusia terintegrasi, mengelola sumber daya kelautan dan perikanan secara berkelanjutan. Lalu, meningkatkan produk thi tas dan daya saing berbasis pengetahuan, serta memperluas akses pasar domestik dan internasional. "Untuk itu, KKP menempatkan perikanan budi daya sebagai ujung tombak dalam memacu produksi perikanan nasional," ujar dia.

Kementerian ini mencanangkan gerakan melalui beberapa langkah antara lain, memperkuat kelembagaan dan sumber daya manusia (SDM) secara terintegrasi, mengelola sumber daya kelautan dan perikanan secara berkelanjutan, meningkatkan produktivitas dan daya saing berbasis pengetahuan.

"Kita memiliki potensi besar menaikkan produksi ikan nasional hanya bagaimana kita mendesain hal itu."

Pada 2009, produksi perikanan Indonesia baru mencapai 10.065 juta ton. Sedangkan pada 2010 dan 2014 produksi perikanan ditarget 10,76 juta ton dan 22,39 juta ton.

Produksi perikanan sebagian besar akan dipacu dari perikanan budi daya yaitu sebesar 5,38 juta ton pada 2010 dan 16,89 juta ton pada 2014 atau meningkat 323 persen. Yogyo Susaptoyono
 
Sumber : Jurnal Nasional